Binatang Rughu di Pota Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur

“Rughu” adalah nama lokal untuk binatang komodo yang hidup di pesisir utara pulau Flores, khususnya di Pota Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur. Berdasarkan Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora (CITES) komodo termasuk dalam daftar binatang langkah dan berada pada status rentan punah (vulnerable) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) (IUCN, 2016). Hal ini dikarenakan populasi komodo yang cenderung menurun dan sebaran yang terbatas (Jessop dkk, 2007). Demikian pula populasi rughu di wilayah Pota cenderung mengalami penurunan populasi.

Komodo paling banyak tersabar di beberapa pulau kecil di barat pulau Flores seperti pulau Komodo, pulau Rinca, pulau Gilimotang dan pulau Padar. Namun di beberapa tempat di pulau Flores bagian barat juga ditemukan penyebaran dan habitat komodo. Penyebaran di pulau Flores bagian barat mulai dari Labuan Bajo sampai Nangalili dan di bagian Pantai Utara mulai dari Dampek sampai sebelah barat Riung (Aufenberg, 1981). Selain daerah tersebut penyebaran komodo sampai ke timur menyusuri pantai utara pulau Flores dan ke arah timur menyusuri pantai utara pulau Flores sampai ke sekitar Tanjung Watumanuk (Sutedja, 1983).

 

Mengenal Rughu, Komodo Asli Pota

Masyarakat Pota Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur menyebut Komodo dengan nama lokal “rughu”. Belum diketahui sejak kapan penyebaran binatang komodo sampai ke wilyah Pota, namun  keberadaan komodo di Pota sudah diceritakan dari generasi ke generasi. Demikian pula pemberian nama “rughu” oleh masyarakat local menunjukan adanya hubungan atau pengakuan atas keberadaan komodo di tengah penduduk asli Pota sejak zaman dulu.

Binatang rughu di Pota Kecamatan Sambi Rampas

Berbeda dengan komodo yang hidup di pulau-pulau kecil di sebelah barat Flores yang merupakan tempat ideal bagi komodo, rughu di Pota sudah sejak awal hidup berdampingan dengan manusia. Tidak jarang keberadaan manusia bisa mengancam keberlangsungan populasi rughu, demikian juga rughu bisa menjadi ancaman bagi ternak masyarakat.

Komodo yang hidup di luar habitat idealnya memiliki ciri fisik yang sedikit berbeda dengan komodo yang hidup di pulau-pulau kecil di sebelah barat Flores. Komodo memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan biawak lainnya. Menurut Verhallen (2006), panjang tubuh komodo dapat mencapai 3 meter dengan bobot badan lebih dari 100 kg. Kulit komodo dewasa umumnya berwarna hitam keabu-abuan. Namun, rughu memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dan ramping dengan warna lebih terang atau kekuningan. Perbedaan tersebut diduga sebagai hasil adaptasi dengan alam dan habitatnya.

Penyebaran rughu di wilayah Pota Kecamatan Sambi Rampas mencakup wilayah yang cukup luas yakni wilayah hutan konservasi dan lahan milik masyarakat. Data dari Pusat Informasi Komodo di Pota menerangkan wilayah penyebaran rughu di wilayah Kabupaten Manggarai Timur mencakup wilayah beberapa desa/kelurahan di Kecamatan Sambi Rampas dan Elar. “Penyebaran habitat rughu mulai dari Kelurahan Baras, Kelurahan Pota, Desa Nanga Mbaur, Desa Nanga Mbaling, Desa Nampar Sepang sampai Desa Golo Lijun di Kecamatan Elar” jelas Arsyad, staf Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Manggarai Timur yang mengelolah Pusat Informasi Komodo di Pota.

Tidak seperti Komodo di pulau Komodo dan Rinca, rughu merupakan binatang yang jarang dijumpai dan selalu menghindar jika berjumpa dengan manusia. Populasi manusia dan perluasan lahan masyarakat membuat habitat rughu semakin terdesak. Sering terjadi rughu masuk ke wilayah perkampungan dan memangsa hewan ternak milik warga. “Saya sering mendapat laporan dari masyarakat, ada rughu yang memangsa ternak mereka. Saya langsung ke lokasi untuk mengevakuasinya sambil memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak membunuh rughu karena merupakan binatang yang dilindungi” ujar Arsyad, yang juga merupakan pawang Komodo.

 

Bapak Arsyad sedang mengevakuasi rughu yang masuk ke perkampungan dan memangsa ternak milik warga

 

Ancaman dan Upaya Konservasi Rughu

Peningkatan populasi manusia dan perluasan lahan masyarakat berdampak besar pada habitat dan populasi rughu. Ancaman kepunahan bisa disebabkan oleh beberapa factor seperti habitat rughu yang semakin terdesak, ketersediaan sumber makanan yang semakin menipis dan ancaman langsung keberadaan rughu bagi ternak warga. Ancaman tersebut mendorong Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) wilayah II Ruteng untuk melakukan upaya konservasi dan riset dengan melibatkan beberapa stakeholders.

Upaya konservasi rughu menjadi salah satu prioritas BKSDA Wilayah II Ruteng untuk menyelamatkan habitat dan populasi binatang yang terancam punah tersebut dengan bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan dan LSM yang bergerak di bidang konservasi binatang yang terancam punah. Data dari Pusat Informasi Komodo di Pota mengatakan bahwa upaya konservasi rughu sudah dilakukan oleh BKSDA Wilayah II Ruteng bekerjasama dengan LSM Komodo Survival Program (KSP) sejak tahun 2013 dan sejak tahun 2023 bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan dalam Proyek InFlores.

Bersama LSM Komodo Survival Program (KSP) BKSDA Wilayah II Ruteng telah melaksanakan beberapa kegiatan peningkatan SDM, Konservasi dan Riset. KSP focus pada sosialisasi tentang Komodo kepada Masyarakat di wilayah sambi Rampas dan Elar dengan mendirikan Pusat Informasi Komodo di Pota pada tahun 2016. Pada tahun 2015 beberapa aparat desa di kecamatan Sambi Rampas dan Elar diutus mengikuti studi banding tentang Komodo di Taman Nasional Komodo. Pada tahun 2017 KSP melakukan pelatihan kerajinan pembuatan patung Komodo kepada para pengrajin patung. Selain itu, untuk memantau pergerakan dan populasi rughu, BKSDA Wilayah II Ruteng Bersama KSP juga memasang camera trap di beberapa Lokasi di wilayah Sambi Rampas dan Elar.

Tim BKSDA bersama KSP memasang camera trap untuk memantau rughu

Sejak tahun 2024 BKSDA Wilayah II Ruteng juga bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan dan LSM KSP melaksanakan proyek InFlores dengan fokus pada kegiatan sosialisasi tentang komodo kepada masyarakat dan konservasi. Fokus utama proyek ini antara lain pemberdayaan masyarakat dengan membentuk kader-kader pelestari lokal untuk menjaga kelestarian Komodo dan hewan serta tumbuhan langkah dan terancam punah, termasuk melaporkan dan menyelamatkan komodo yang tak sengaja tertabrak kendaraan. Sosialisasi masih dipandang penting di tengah ancaman berkurangnya populasi rughu dan hewan endemik lainnya di wilayah Flores. Semetara itu, dari pantauan camera trap yang dipasang oleh KSP, pada tahun 2024 populasi rughu sekitar 19 ekor.

Para kader-kader pelestari lokal saat mengikuti pelatihan.

“Rughu” bukan sekedar binatang purba yang terancam punah tapi merupakan pengakuan yang telah memberi pengertian tentang keberadaan bersama antara komodo dan masyarakat Pota dari generasi ke generasi. Namun, perkembangan zaman mendesak keberadaan rughu ke jurang kepunahan. Manusia sebagai yang “berkuasa” atas alam dan isinya berperan sangat besar dalam menentukan keberlangsungan hidup rughu. Mari kita bersama-sama menjaga habitat dan ekosistem tempat tinggal rughu, agar keberadaan rughu terus berlanjut sampai ke  generasi yang akan datang.


NEWSLETTER

Please enable the javascript to submit this form

sidebar