Di tengah popularitas Topi Rongga yang mulai dikenal luas sebagai salah satu ikon budaya Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih tersimpan warisan leluhur lain yang tak kalah istimewa. 

Namanya Topi Rombeng, sebuah kerajinan anyaman tradisional khas Suku Sadang di Desa Gising, Kecamatan Elar Selatan, yang hingga kini tetap bertahan di tengah keterbatasan bahan baku dan minimnya regenerasi pengrajin.

Bagi masyarakat Suku Sadang, Topi Rombeng bukan sekadar penutup kepala. Anyaman tradisional ini menjadi simbol identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun dan selalu hadir dalam berbagai ritual adat, salah satunya Upacara Pange Weki. 

Di balik bentuknya yang sederhana, tersimpan nilai sejarah, filosofi, sekaligus kebanggaan masyarakat setempat.

Namun, keberadaan Topi Rombeng kini berada di persimpangan. Di saat berbagai produk budaya lokal mulai naik daun, kerajinan ini justru masih belum banyak dikenal masyarakat luas.

Salah satu sosok yang berjuang menjaga tradisi tersebut adalah Maria Oktavia Managusti. Sejak 2025, perempuan asal Desa Gising itu secara mandiri menganyam Topi Rombeng dari rumahnya. Keahlian tersebut diwariskan langsung oleh ibu mertuanya yang mengajarkan teknik menganyam secara tradisional.

 


Bagi Maria, tantangan terbesar bukanlah proses menganyam yang membutuhkan ketelatenan, melainkan mencari bahan baku.

"Yang paling sulit itu mencari bahan. Kadang kami harus pergi sendiri mengambil bahan karena tidak ada tenaga kerja yang membantu," ujarnya saat ditemui pada Selasa (30/6/2026).

Kesulitan memperoleh bahan membuat proses produksi tidak bisa dilakukan secara rutin. Topi Rombeng hanya dibuat ketika ada pesanan dari pelanggan. Untuk menyelesaikan satu buah topi, Maria membutuhkan waktu sekitar dua hari, tergantung ketersediaan bahan dan aktivitas sehari-hari.

Saat ini, Maria mengaku usahanya masih berjalan secara mandiri. Di Desa Gising, hanya sekitar empat orang yang masih memiliki kemampuan membuat Topi Rombeng. 

Sementara seorang pengrajin lainnya kini menetap di Kalimantan. Kondisi tersebut membuat keberlangsungan kerajinan ini semakin bergantung pada segelintir orang yang masih setia mempertahankannya.

Selain Topi Rombeng, Maria juga memproduksi tas anyaman tradisional. Satu buah Topi Rombeng dijual seharga Rp500 ribu, sedangkan tas anyaman dipasarkan sekitar Rp300 ribu. 

Pembelinya sebagian besar perempuan yang menggunakan produk tersebut untuk keperluan adat maupun sebagai koleksi kerajinan khas daerah.

 


Sebelum Topi Rombeng berkembang, masyarakat setempat sebenarnya telah membuat topi dari bahan betong atau bambu besar, serta mindu yang berasal dari bambu halus. 

Namun kedua jenis bahan tersebut dinilai kurang tahan lama karena mudah rusak. Seiring waktu, para pengrajin beralih menggunakan bahan yang menghasilkan Topi Rombeng karena lebih kuat, awet, dan memiliki kualitas yang lebih baik.

Dalam proses produksinya, Maria juga dibantu anggota keluarganya, termasuk Paulina Talun. Kerajinan ini menjadi salah satu sumber penghasilan tambahan bagi keluarga, sekaligus cara mempertahankan warisan budaya yang diwariskan leluhur.

Meski memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan, Maria mengaku prihatin karena belum banyak generasi muda yang tertarik mempelajari teknik menganyam Topi Rombeng.

"Saya berharap anak-anak muda mau belajar. Sayang sekali kalau kerajinan ini hilang, padahal hasilnya bisa membantu ekonomi keluarga," katanya.

Harapan itu juga ia tujukan kepada pemerintah dan berbagai pihak agar memberikan perhatian lebih melalui pelatihan, pendampingan, hingga promosi. 

Menurutnya, dukungan tersebut sangat penting agar Topi Rombeng semakin dikenal masyarakat luas sekaligus membuka peluang pasar yang lebih besar bagi para pengrajin.

Dengan sentuhan inovasi dan promosi yang tepat, Topi Rombeng memiliki potensi menjadi salah satu ikon kerajinan khas Manggarai Timur, melengkapi kekayaan budaya yang dimiliki daerah tersebut.

Di balik setiap helai anyamannya tersimpan kisah tentang ketekunan, kecintaan terhadap tradisi, dan perjuangan menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah arus modernisasi. 

Topi Rombeng bukan hanya sebuah karya kerajinan, melainkan identitas budaya yang menunggu untuk lebih dikenal Indonesia.


NEWSLETTER

Please enable the javascript to submit this form

sidebar