Di balik popularitas Labuan Bajo dengan komodo purbanya, Pulau Flores ternyata menyimpan banyak rahasia yang belum sepenuhnya terungkap.

Salah satunya berada di Kabupaten Manggarai Timur sebuah wilayah di ujung barat Flores yang berbatasan langsung dengan Manggarai dan gerbang wisata dunia, Labuan Bajo.

Namun siapa sangka, di balik ketenangan daerah ini, tersimpan destinasi unik yang nyaris luput dari sorotan, fenomena air mendidih di Sungai Wae Mokel.

Terletak di Desa Golo Meni, Kecamatan Kota Komba Utara, tepatnya di Kampung Lebo, tempat ini menghadirkan pengalaman wisata yang tak biasa.

Tidak seperti destinasi mainstream yang ramai dan penuh fasilitas modern, Wae Mokel justru menawarkan keaslian alam yang masih perawan tenang, sunyi, dan memikat sejak langkah pertama.

 

Pesona Alam yang Menenangkan Jiwa

 Perjalanan menuju lokasi memang membutuhkan usaha. Dari Kota Borong, ibu kota Manggarai Timur, jaraknya sekitar 39,2 kilometer. Sementara dari Ruteng, pusat ibu kota Manggarai, sekitar 49 kilometer. Namun setiap kilometer perjalanan terasa sepadan saat tiba di lokasi.

Hamparan sawah terasering yang hijau membentang, berpadu dengan suara gemuruh Sungai Wae Mokel yang jernih dan udara sejuk khas pegunungan. Lanskap ini seolah menjadi lukisan hidup alami, liar, dan belum tersentuh tangan modernisasi.

 

Fenomena Unik: Air Mendidih di Tengah Sungai

 Keunikan utama tempat ini terletak pada fenomena alam yang jarang ditemukan air yang tampak mendidih di tengah aliran sungai.

Pada Minggu, 26 April, saat penulis mengunjungi lokasi ini, terlihat gelembung-gelembung kecil muncul dari celah batu di dasar sungai, menyerupai air yang sedang direbus. Fenomena ini bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga memunculkan rasa penasaran. Air tersebut bahkan memiliki rasa asin—sesuatu yang tidak biasa untuk aliran sungai pegunungan.

Masyarakat setempat percaya bahwa air ini memiliki khasiat, terutama untuk menyembuhkan penyakit kulit seperti gatal atau kudis.

Cerita ini diperkuat oleh penuturan warga setempat, Donsi, yang ditemui di kediamannya pada Senin sore, 27 April 2026. Ia menyebutkan bahwa sejak dulu, warga memanfaatkan air tersebut sebagai obat alami.

 

Waktu Terbaik untuk Berkunjung

Meski memikat, wisatawan perlu memperhatikan waktu kunjungan. Saat musim hujan, debit air Sungai Wae Mokel meningkat drastis dan dapat menutupi sumber air mendidih tersebut.

Bahkan, warna air berubah menjadi lebih gelap, sehingga keindahan dan fenomenanya tidak terlihat.

Sebaliknya, musim kemarau adalah waktu terbaik untuk datang. Air sungai lebih jernih, aliran lebih tenang, dan fenomena gelembung “air mendidih” dapat disaksikan dengan jelas.

 

Potensi Wisata yang Menanti Sentuhan

 Wae Mokel di Kampung Lebo adalah contoh nyata bahwa Flores tidak hanya tentang komodo atau pantai eksotis. Ada kekayaan lain yang lebih sunyi, lebih alami, dan justru menawarkan pengalaman yang lebih intim dengan alam.

Walaupun destinasi ini masih minim promosi dan fasilitas. Namun justru di situlah daya tariknya: sebuah tempat yang belum ramai, belum tercemar, dan masih murni seperti pertama kali diciptakan.

Jika kedepannya akan dikelola dengan bijak, tanpa merusak keasliannya, bukan tidak mungkin Wae Mokel akan menjadi destinasi unggulan baru di Manggarai Timur—sebuah permata tersembunyi yang siap bersinar di peta pariwisata Indonesia.

 

Ditulis oleh: Mulia Donan | 28 April 2026

Minggu pagi, 26 April 2026, pukul 09.30 WITA, langkah kami—saya dan rekan perjalanan, Gusti—mengarah ke sebuah destinasi yang belum banyak tersentuh sorotan. Kolam ajaib di Kampung Lebo, Desa Golo Meni, Kecamatan Kota Komba Utara, Kabupaten Manggarai Timur.
Udara pagi itu terasa sejuk, diselimuti gerimis tipis yang justru menambah romantika perjalanan. Lanskap khas ujung utara menyambut hangat.
Hamparan sawah terasering, aliran sungai yang bergemuruh, dan hijaunya kebun warga yang membentang sejauh mata memandang. 
Perjalanan menuju lokasi terasa seperti terapi alami—menenangkan sekaligus membangkitkan rasa ingin tahu.


Menyusuri Jalan Sunyi Menuju Keajaiban Alam

Sekitar pukul 10.15 WITA, kami tiba dan langsung melanjutkan perjalanan menyusuri jalur kecil—“jalan tikus” yang biasa digunakan petani menuju ladang. 
Trek ini bukan tanpa tantangan. Semak belukar yang rapat, jalur tanah yang licin, hingga medan yang naik turun justru menjadi bagian dari petualangan yang tak terlupakan.
Namun, setiap langkah seakan terbayar lunas saat suara gemericik air mulai terdengar—pertanda bahwa kami semakin dekat dengan tujuan utama: kolam ajaib yang dikenal warga sebagai “Loka”.


Loka Lebo: Air Mendidih yang Tak Pernah Padam

Di balik kesunyian Kampung Lebo, tersembunyi fenomena alam yang langka. Kolam ini berisi air yang tampak terus mendidih tanpa henti. Uniknya, air tersebut terasa hangat dan sedikit asin saat disentuh.
Bagi masyarakat setempat, “Loka” bukan sekadar keajaiban alam, tetapi juga memiliki nilai sakral.
Donsi (43), salah satu warga, mengungkapkan bahwa kolam ini telah lama dipercaya memiliki kekuatan penyembuhan.
Donsi menambahkan kisah yang beredar di kampung tersebut. Konon, seseorang yang pernah menderita penyakit kulit seperti kudis, sembuh setelah mandi di kolam ini. 
Cerita-cerita semacam ini semakin memperkuat aura mistis sekaligus daya tarik wisata Loka Lebo.
Donsi menceritakan bahwa Loka Lebo memiliki beragam bentuk dan ukuran—ada yang bulat, ada pula yang menyerupai sabit, tersebar di lokasi yang terpisah. 
Tempat ini dipercaya dihuni makhluk gaib, mulai dari arwah leluhur hingga bidadari. Kolam ini sangat sakral, sehingga tidak boleh disentuh sembarangan, baik oleh masyarakat setempat maupun pengunjung yang datang untuk menikmatinya.


Lebih dari Sekadar Wisata Alam

Selama ini, Nusa Tenggara Timur dikenal luas lewat pantai eksotis, panorama matahari terbit dan terbenam, serta kekayaan baharinya. 
Namun, Loka Lebo menjadi bukti bahwa wilayah ini juga menyimpan pesona wisata darat yang tak kalah memikat.
Sayangnya, keindahan ini masih tersembunyi. Minimnya promosi membuat destinasi ini jarang dikunjungi wisatawan. Padahal, dari sisi keunikan, nilai budaya, hingga pengalaman yang ditawarkan, Loka Lebo memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi destinasi unggulan.


Wisata Rohani di Gua Bunda Maria Loka Lebo

Tak jauh dari kolam air mendidih, terdapat tempat ziarah yang menambah dimensi spiritual perjalanan: Gua Bunda Maria Loka Lebo.
Gua ini menjadi ruang refleksi dan doa bagi para pengunjung. Lingkungannya yang tenang dan tertata rapi membuat siapa pun betah berlama-lama. Fasilitas seperti penginapan sederhana dan bangku-bangku santai juga tersedia, menjadikannya lokasi yang ramah bagi wisatawan.


Akses dan Rute Perjalanan

Perjalanan menuju Kampung Lebo memang cukup panjang, sekitar 100 kilometer dari Borong. Namun akses jalan yang relatif baik membuat perjalanan tetap nyaman.
Dari Borong, wisatawan akan melewati jalan provinsi menuju Kampung Pedak di Desa Mokel. Sebelum tiba di Kampung Deru, terdapat simpang empat—ambil arah kanan menuju Kampung Lebo. 
Sepanjang perjalanan, mata akan dimanjakan oleh kebun kakao dan bentangan sawah yang luas.


Permata Tersembunyi yang Menanti Ditemukan

Loka Lebo adalah gambaran sempurna tentang bagaimana alam, budaya, dan kepercayaan lokal berpadu dalam harmoni. Ia bukan hanya destinasi, tetapi pengalaman—tentang perjalanan, ketenangan, dan kekaguman pada ciptaan alam.
Bagi pencinta petualangan dan pencari ketenangan, tempat ini adalah jawaban yang selama ini mungkin belum Anda ketahui.
Kini, tinggal satu pertanyaan: Kapan Anda menjelajahi Loka Lebo?*

 
Ditulis oleh: Mulia Donan | 27 April 2026

Binatang Rughu di Pota Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur

“Rughu” adalah nama lokal untuk binatang komodo yang hidup di pesisir utara pulau Flores, khususnya di Pota Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur. Berdasarkan Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora (CITES) komodo termasuk dalam daftar binatang langkah dan berada pada status rentan punah (vulnerable) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) (IUCN, 2016). Hal ini dikarenakan populasi komodo yang cenderung menurun dan sebaran yang terbatas (Jessop dkk, 2007). Demikian pula populasi rughu di wilayah Pota cenderung mengalami penurunan populasi.

Komodo paling banyak tersabar di beberapa pulau kecil di barat pulau Flores seperti pulau Komodo, pulau Rinca, pulau Gilimotang dan pulau Padar. Namun di beberapa tempat di pulau Flores bagian barat juga ditemukan penyebaran dan habitat komodo. Penyebaran di pulau Flores bagian barat mulai dari Labuan Bajo sampai Nangalili dan di bagian Pantai Utara mulai dari Dampek sampai sebelah barat Riung (Aufenberg, 1981). Selain daerah tersebut penyebaran komodo sampai ke timur menyusuri pantai utara pulau Flores dan ke arah timur menyusuri pantai utara pulau Flores sampai ke sekitar Tanjung Watumanuk (Sutedja, 1983).

 

Mengenal Rughu, Komodo Asli Pota

Masyarakat Pota Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur menyebut Komodo dengan nama lokal “rughu”. Belum diketahui sejak kapan penyebaran binatang komodo sampai ke wilyah Pota, namun  keberadaan komodo di Pota sudah diceritakan dari generasi ke generasi. Demikian pula pemberian nama “rughu” oleh masyarakat local menunjukan adanya hubungan atau pengakuan atas keberadaan komodo di tengah penduduk asli Pota sejak zaman dulu.

Binatang rughu di Pota Kecamatan Sambi Rampas

Berbeda dengan komodo yang hidup di pulau-pulau kecil di sebelah barat Flores yang merupakan tempat ideal bagi komodo, rughu di Pota sudah sejak awal hidup berdampingan dengan manusia. Tidak jarang keberadaan manusia bisa mengancam keberlangsungan populasi rughu, demikian juga rughu bisa menjadi ancaman bagi ternak masyarakat.

Komodo yang hidup di luar habitat idealnya memiliki ciri fisik yang sedikit berbeda dengan komodo yang hidup di pulau-pulau kecil di sebelah barat Flores. Komodo memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan biawak lainnya. Menurut Verhallen (2006), panjang tubuh komodo dapat mencapai 3 meter dengan bobot badan lebih dari 100 kg. Kulit komodo dewasa umumnya berwarna hitam keabu-abuan. Namun, rughu memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dan ramping dengan warna lebih terang atau kekuningan. Perbedaan tersebut diduga sebagai hasil adaptasi dengan alam dan habitatnya.

Penyebaran rughu di wilayah Pota Kecamatan Sambi Rampas mencakup wilayah yang cukup luas yakni wilayah hutan konservasi dan lahan milik masyarakat. Data dari Pusat Informasi Komodo di Pota menerangkan wilayah penyebaran rughu di wilayah Kabupaten Manggarai Timur mencakup wilayah beberapa desa/kelurahan di Kecamatan Sambi Rampas dan Elar. “Penyebaran habitat rughu mulai dari Kelurahan Baras, Kelurahan Pota, Desa Nanga Mbaur, Desa Nanga Mbaling, Desa Nampar Sepang sampai Desa Golo Lijun di Kecamatan Elar” jelas Arsyad, staf Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Manggarai Timur yang mengelolah Pusat Informasi Komodo di Pota.

Tidak seperti Komodo di pulau Komodo dan Rinca, rughu merupakan binatang yang jarang dijumpai dan selalu menghindar jika berjumpa dengan manusia. Populasi manusia dan perluasan lahan masyarakat membuat habitat rughu semakin terdesak. Sering terjadi rughu masuk ke wilayah perkampungan dan memangsa hewan ternak milik warga. “Saya sering mendapat laporan dari masyarakat, ada rughu yang memangsa ternak mereka. Saya langsung ke lokasi untuk mengevakuasinya sambil memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak membunuh rughu karena merupakan binatang yang dilindungi” ujar Arsyad, yang juga merupakan pawang Komodo.

 

Bapak Arsyad sedang mengevakuasi rughu yang masuk ke perkampungan dan memangsa ternak milik warga

 

Ancaman dan Upaya Konservasi Rughu

Peningkatan populasi manusia dan perluasan lahan masyarakat berdampak besar pada habitat dan populasi rughu. Ancaman kepunahan bisa disebabkan oleh beberapa factor seperti habitat rughu yang semakin terdesak, ketersediaan sumber makanan yang semakin menipis dan ancaman langsung keberadaan rughu bagi ternak warga. Ancaman tersebut mendorong Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) wilayah II Ruteng untuk melakukan upaya konservasi dan riset dengan melibatkan beberapa stakeholders.

Upaya konservasi rughu menjadi salah satu prioritas BKSDA Wilayah II Ruteng untuk menyelamatkan habitat dan populasi binatang yang terancam punah tersebut dengan bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan dan LSM yang bergerak di bidang konservasi binatang yang terancam punah. Data dari Pusat Informasi Komodo di Pota mengatakan bahwa upaya konservasi rughu sudah dilakukan oleh BKSDA Wilayah II Ruteng bekerjasama dengan LSM Komodo Survival Program (KSP) sejak tahun 2013 dan sejak tahun 2023 bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan dalam Proyek InFlores.

Bersama LSM Komodo Survival Program (KSP) BKSDA Wilayah II Ruteng telah melaksanakan beberapa kegiatan peningkatan SDM, Konservasi dan Riset. KSP focus pada sosialisasi tentang Komodo kepada Masyarakat di wilayah sambi Rampas dan Elar dengan mendirikan Pusat Informasi Komodo di Pota pada tahun 2016. Pada tahun 2015 beberapa aparat desa di kecamatan Sambi Rampas dan Elar diutus mengikuti studi banding tentang Komodo di Taman Nasional Komodo. Pada tahun 2017 KSP melakukan pelatihan kerajinan pembuatan patung Komodo kepada para pengrajin patung. Selain itu, untuk memantau pergerakan dan populasi rughu, BKSDA Wilayah II Ruteng Bersama KSP juga memasang camera trap di beberapa Lokasi di wilayah Sambi Rampas dan Elar.

Tim BKSDA bersama KSP memasang camera trap untuk memantau rughu

Sejak tahun 2024 BKSDA Wilayah II Ruteng juga bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan dan LSM KSP melaksanakan proyek InFlores dengan fokus pada kegiatan sosialisasi tentang komodo kepada masyarakat dan konservasi. Fokus utama proyek ini antara lain pemberdayaan masyarakat dengan membentuk kader-kader pelestari lokal untuk menjaga kelestarian Komodo dan hewan serta tumbuhan langkah dan terancam punah, termasuk melaporkan dan menyelamatkan komodo yang tak sengaja tertabrak kendaraan. Sosialisasi masih dipandang penting di tengah ancaman berkurangnya populasi rughu dan hewan endemik lainnya di wilayah Flores. Semetara itu, dari pantauan camera trap yang dipasang oleh KSP, pada tahun 2024 populasi rughu sekitar 19 ekor.

Para kader-kader pelestari lokal saat mengikuti pelatihan.

“Rughu” bukan sekedar binatang purba yang terancam punah tapi merupakan pengakuan yang telah memberi pengertian tentang keberadaan bersama antara komodo dan masyarakat Pota dari generasi ke generasi. Namun, perkembangan zaman mendesak keberadaan rughu ke jurang kepunahan. Manusia sebagai yang “berkuasa” atas alam dan isinya berperan sangat besar dalam menentukan keberlangsungan hidup rughu. Mari kita bersama-sama menjaga habitat dan ekosistem tempat tinggal rughu, agar keberadaan rughu terus berlanjut sampai ke  generasi yang akan datang.

Teluk Nanga Lok di Desa Golo Lijun, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur

Teluk Nanga Lok ibarat maha karya alam yang indah dengan teduhnya laut biru diapit bentangan bukit savanah di utara Manggarai Timur. Siapa pun yang berkunjung ke savannah pasti terpesona oleh keindahannya.

Teluk Nanga Lok terletak di desa Golo Lijun, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, sekitar lima belas kilometer sebelah timur Pota. Saat berwisata ke Teluk Nanga Lok pengunjung dapat merasakan beragam pengalaman menakjubkan tentang indahnya alam di utara Manggarai Timur. Nanga Lok adalah sebuah teluk kecil yang indah nan teduh dengan pemandangan yang masih alami. Di tepi teluk Nanga Lok dikelilingi hutan bakau yang rimbun dan hijau. Teluk ini diapit bentangan bukit savana yang menambah keindahan perpaduan savana dan Pantai.

Teluk Nanga Lok berada di pinggir jalan nasional lintas utara pulau Flores yang menghubungkan beberapa destinasi wisata unggulan seperti Labuan Bajo, 17 pulau di Riung dan Maumere di bagian timur Flores. Dari Pota, Kecamatan Sambi Rampas, perjalanan menuju teluk Nanga Lok akan melewati hamparan persawahan dan perkebunan masyarakat, barisan bukit dan hutan dan garis pantai Watu Pajung yang tenang dan indah. Di sepanjang jalan terlihat aktivitas petani sedang bekerja di sawah dan kebun di bawah terpaan sinar mentari yang cerah.

Sementara menikmati keindahan panorama di sepanjang jalan, perjalanan akan melewati rimbunan pohon bakau di tepi jalan. Pohon bakau ini sebagai penanda bahwa kita akan memasuki teluk Nanga Lok. Perlahan-lahan terlihat dari jalan raya punggung bukit yang hanya ditumbuhi ilalang. Tak berapa lama sebuah pemandangan alam yang begitu indah terlihat dan menjadi momen yang sulit untuk dilupakan, sebuah teluk yang teduh, indah, dan membelah jauh ke daratan sekitar satu kilometer dengan tepiannya ditutupi hutan bakau yang rimbun dan hijau. Dari kaki bukit savana pengunjung bisa menikmati indahnya mahakarya Teluk Nanga Lok yang indah.

Walaupaun selama ini teluk Nanga Lok dan Bukit Cinta dari di utara Manggarai Timur hanya diketahui oleh warga setempat atau oleh orang luar yang melintasi jalan tersebut, keindahan Teluk Nanga Lok sudah mendapat pengakuan luas dengan terpilih sebagai 10 besar Anugerah Pesona Indonesia (API) 2022 untuk kategori Surga Tersembunyi. " Siapa pun yang melintas di teluk Nanga Lok pasti mampir untuk menikmati keindahan laut biru dan melepas lelah dari perjalanan jauh. Beberapa wisatawan asing yang datang ke sini meminta agar tempat ini dijaga agar tetap alamiah dan lingkungannya tetap lestari. " tutur Arsyad, sang pemandu wisata.

 

Bukit Cinta di Teluk Nanga Lok

Keindahan Nanga Lok tidak hanya pada teluk yang teduh dan indah yang ditumbuhi hutan bakau di tepiannya. Barisan bukit savana yang mengapiti teluk Nanga Lok juga menyajikan pemandangan yang sama menakjubkan. Bukit savana ini ibarat pangeran perkasa yang setia menunggu dan mengagumi keindahan teluk Nanga Lok.

Bukit ini ditumbuhi rumput savana yang berwarna hijau di musim hujan dan coklat di musim kemarau. Di dekat teluk Nanga Lok terdapat sebuah bukit yang menjadi spot foto favorit yang dibuat oleh masyarakat lokal. Pengunjung dapat mengabadikan momen terbaik dari bukit tersebut.

Bukit itu dinamai bukit Cinta. "Bukit ini disebut bukit cinta" kata Arsyad. Loh, koq bukit cinta? "Iya dinamai bukit Cinta karena wisatawan yang berkunjung ke sini pasti jatuh cinta pada keindahannya, juga banyak muda-mudi yang datang berpacaran di sini sambil menikmati keindahan teluk Nanga Lok" lanjutnya. Benar juga, berada di atas puncak bukit cinta membuat kita bisa leluasa menyaksikan keindahan teluk Nanga Lok.

 

Waktu yang baik untuk berkunjung ke Teluk Nanga Lok dan Bukit Cinta yaitu pada pagi dan sore hari. Pengunjung akan menyaksikan pesona sunrise dan sunset yang menakjubkan di Teluk Nanga Lok. Informasi tentang Teluk Nanga Lok dan sekitarnya bisa diperoleh di kantor Pusat Informasi Rughu di Pota dan seorang pemandu local berpengalaman bernama Arsyad dapat memandu dan memberikan informasi yang dibutuhkan selama berada di Pota, Kecamatan Sambi Rampas.

Padang Savana Mausui

 

Padang savana Mausui terletak di Kelurahan Watunggene kecamatan Kota Komba. Padang savana yang luas dan indah ini adalah primadona baru pariwisata Manggarai Timur dan menjadi spot fotografi favorit bagi para konten creator local dan nusantara. Tak heran jika pesona padang savana Mausui sering terlihat di berbagai platform media sosial belakangan ini. Panorama padang rumput hijau belatar belakang Pantai dan gunung memang menjadi daya magis yang membuat pengunjung terpesona. Di savana ini juga pengunjung bisa menyaksikan kawanan kuda, kerbau dan sapi berkeliaran mencari makan. Momen berada di padang savana Mausui sulit untuk dilupakan dan layak diabadikan. Rasanya belum lengkap bila berkunjung ke Manggarai Timur tanpa menyaksikan dan mengabadikan keindahan padang gembala nan eksotis ini.

 

Tempat penyelenggaraan Festival Tanjung Bendera

Di Tengah pandang savana Mausui yang indah ini pernah diselenggarakan festival bertajuk “Festival Tanjung Bendera: Harmony Alam dan Budaya” pada Desember 2017. Festival Tanjung Bendera merupakan even budaya dan pariwisata yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Manggarai Timur. Dinamai Festival Tanjung Bendera juga untuk memperkenalkan Tanjung Bendera sebagai lokasi yang dipersiapkan untuk Pembangunan Badara undara di Manggarai Timur. Padang Mausui dan Tanjung bendera merupakan dua spot wisata dalam satu hamparan savana yang luas di bagian Selatan kecamatan Kota Komba.

Pada Festival Tanjung Bendera ditampilkan berbagai pementasan budaya Manggarai, khususnya budaya suku Rongga yang mendiami bagian selatan wilayah kecamatan Kota Komba. Selain pementasan budaya juga selenggarakan berbagai perlombaan dengan mengangkat budaya “berkuda” dalam kehidupan sehari-hari masyarakat suku Rongga. Perlombaan dengan tema kuda antara lain lomba merias kuda, parade berkuda, pacuan/balap kuda dan lomba ketangkasan berburu. Puluhan masyarakat local berbusana tradisional suku Rongga terlibat dalam parade berkuda dengan menampilkan kuda-kuda yang sudah dihias.

 

Potensi Wisata Berkuda

Padang savana Mausui berada di pesisir Selatan kabupaten Manggarai Timur bisa menjadi tujuan Anda untuk menikmati liburan bersama keluarga dan teman-teman. Tempat ini merupakan salah satu destinasi wisata Manggarai Timur yang bisa anda jangkau dengan kendaraan, sekitar 8km dari Kantor Kelurahan Watunggene di jalur trans Flores. Di padang Mausui pengunjung bisa menjelajahi beberapa spot menarik dengan berkuda. Inovasi wisata berkuda dikembangakan warga kelurahan Watu nggene, kecamatan Kota Komba, mengingat banyak spot indah di sekitar padang savana Mausui yang masih sulit dijangkau kendaraan, karena belum ada akses jalan yang memadai. Cara ini terbilang unik dan banyak menarik minat wisatawan.

 

Beragam daya Tarik wisata

Saat menginjakkan kaki di padang savana Mausui, Anda pasti akan langsung tersihir oleh keindahan dari perpaduan yang sempurna antara padang savana, pantai, gunung dan kuda yang berkeliaran bebas di Tengah savana. Selain itu, pengunjung bisa menikmati berenang di Pantai berpasir putih atau menyusuri hamparan batu karang yang indah di pesisir Pantai. Pengunjung juga bisa mengunjungi situs budaya Sambi Lewa dan Watu Susu Rongga yang letaknya tak jauh dari padang Mausui. Ada juga pengunjung yang melakukan camping pada malam hari bersama teman-teman dan rekan kerja di tengah padang savana Mausui.

Jika Anda ke Manggarai Timur, luangkan waktu Anda mengunjungi Padang Savana Mausui di Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba. Anda akan membawa pulang pengalaman yang tak terlupakan dan layak diabadikan.

 

NEWSLETTER

Please enable the javascript to submit this form

sidebar