Mengenal Danau Rana Tonjong di Pota

Danau Rana Tonjong merupakan salah satu keajaiban alam tersembunyi yang terletak di Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Secara etimologi atau bahasa daerah setempat, nama danau ini memiliki arti yang sangat puitis, di mana kata Rana berarti danau dan Tonjong berarti teratai. Sesuai dengan namanya, seluruh permukaan danau ini ditumbuhi oleh hamparan bunga teratai raksasa yang menyajikan pemandangan luar biasa indah.

Danau Teratai Terbesar Kedua di Dunia

Keberadaan tanaman air ini bukan sekadar tanaman hias biasa, melainkan sebuah fenomena alam yang berskala internasional. Daya tarik utama Danau Rana Tonjong adalah ukuran teratainya yang sangat besar, yang secara lokal dikenal dengan nama Lotus atau Tonjong. Berkat hamparannya yang begitu masif menutupi permukaan air danau, tempat ini dinobatkan dan dikenal luas sebagai salah satu danau teratai terbesar kedua di dunia.

Legenda Air Mata Sang Putri

Di balik keindahan fisiknya, Danau Rana Tonjong juga menyimpan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Konon kabarnya, danau ini terbentuk dari air mata seorang putri yang dirundung kesedihan yang amat mendalam. Sang putri dikisahkan menangis tersedu-sedu dalam waktu yang lama, hingga perlahan-lahan tetesan air matanya menggenang, meluas, dan membentuk sebuah danau yang kini kita kenal sebagai Rana Tonjong.

Siklus Mekar Sempurna Bunga Lotus

Hal yang menjadi keunikan utama dan selalu dinantikan oleh para pelancong tentu saja adalah momen ketika bunga lotus atau teratai ini mekar secara bersamaan. Tanaman endemik ini memiliki siklus tahunan yang khas, di mana bunga teratai biasanya akan tumbuh subur dan mekar dengan sempurna pada periode bulan April hingga Juni setiap tahunnya. Saat musim mekar tiba, permukaan air danau akan berubah menjadi hamparan warna merah muda yang kontras dengan hijau daunnya yang lebar.

Misteri Teratai yang Tak Bisa Dipindahkan

Selain legenda asal-usulnya, ada pula mitos dan cerita unik yang menyelimuti kehidupan bunga teratai raksasa di danau ini. Konon, teratai di Rana Tonjong memiliki sifat mistis karena tidak dapat tumbuh dan berkembang biak di tempat lain jika dipindahkan dari habitat aslinya. Masyarakat percaya bahwa jika ada orang yang membawa tanaman teratai ini ke luar daerah, tanaman tersebut hanya akan bertahan hidup seadanya tanpa pernah bisa berkembang ataupun memunculkan bunganya.

Manfaat Kesehatan dan Nilai Ekonomi

Keindahan yang dimiliki oleh bunga lotus raksasa ini membuatnya sangat dikagumi, sehingga jenis tanaman serupa banyak diadopsi sebagai penghias kolam di taman-taman mewah. Karena kelangkaan dan keunikannya, tanaman ini dianggap memiliki nilai ekonomi yang tinggi di dunia botani. Tidak hanya unggul dari segi estetika, bunga lotus di Rana Tonjong ini ternyata juga menyimpan khasiat herbal dan dapat dimanfaatkan oleh warga sebagai bahan pengobatan tradisional.

Fasilitas dan Aktivitas Seru di Sekitar Danau

Bagi wisatawan yang datang berkunjung, Danau Rana Tonjong menawarkan berbagai pilihan aktivitas rekreasi yang menyenangkan. Keberadaan danau yang dikelilingi oleh perbukitan hijau ini sangat cocok dimanfaatkan untuk memancing ikan, bersepeda santai, hingga melakukan trekking ringan. Suasananya yang sejuk juga sering dimanfaatkan oleh warga setempat maupun pengunjung untuk berolahraga pagi serta menggelar piknik santai bersama keluarga di tepi danau.

Kunjungan Wisatawan dan Akomodasi

Pesona magis bunga lotus yang menawan ini sukses memikat hati banyak sekali wisatawan yang berdatangan, baik dari dalam daerah maupun luar Flores. Untuk mendukung kenyamanan para pelancong yang ingin menikmati keindahan danau lebih lama, di sekitar kawasan Danau Rana Tonjong kini sudah tersedia berbagai fasilitas penginapan. Keberadaan akomodasi ini memudahkan wisatawan untuk bermalam dan berburu momen terbaik saat matahari terbit di atas hamparan teratai raksasa.

 

 

 

Mengenal Danau Vulkanik Rana Mese

Danau Rana Mese merupakan sebuah danau vulkanik yang memukau dengan luas mencapai 5 hektar dan memiliki kedalaman sekitar 43 meter. Secara administratif, objek wisata alam ini terletak di Desa Golo Loni, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Karena nilai ekologisnya yang tinggi, kawasan danau indah ini masuk ke dalam wilayah konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng.

Arti Nama dan Letak Geografis

Nama "Rana Mese" sendiri diambil dari bahasa daerah Manggarai yang memiliki arti "Danau Besar". Kata Rana berarti danau atau telaga, sedangkan Mese berarti besar dan luas. Penamaan ini sangat mencerminkan lanskapnya yang megah, di mana posisi danau ini diapit secara kokoh oleh dua gunung berapi yang menjulang tinggi, yaitu Gunung Mandosawu dan Gunung Poco Ranaka.

Surga bagi Pengamat Burung (Birdwatching)

Selain menawarkan keindahan airnya yang tenang, kawasan di sekitar Danau Rana Mese dikenal memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Hal ini menjadikan TWA Ruteng sebagai destinasi populer bagi para peneliti dan pencinta alam, khususnya untuk mengamati berbagai spesies burung. Wisatawan yang datang ke sini dapat melihat langsung berbagai jenis burung endemik Flores serta burung-burung migran yang sedang singgah.

Titik Awal Pendakian Gunung

Bagi para pencinta alam dan petualang yang menyukai tantangan, kawasan Danau Rana Mese memegang peranan yang cukup penting. Lokasi di sekitar danau ini sering kali digunakan sebagai titik awal (start point) atau pos pertama untuk melakukan pendakian ke gunung-gunung sekitarnya, terutama Gunung Mandosawu dan Poco Ranaka. Jalur yang menantang dan vegetasi yang rapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki.

Jalur Trekking Menantang di Tepi Tebing

Meskipun topografi atau tebing di sekeliling danau ini tergolong cukup curam, hal tersebut tidak menyurutkan niat para petualang untuk mengeksplorasi areanya. Jalur di sekitar tebing tersebut masih dapat dilewati dengan aman dan kini difungsikan sebagai jalur trekking. Melalui rute ini, pengunjung bisa berjalan kaki memutari danau sambil merasakan sensasi petualangan yang memacu adrenalin.

Ketenangan Alam dan Aktivitas Memancing

Bagi wisatawan yang tidak ingin melakukan aktivitas berat, Danau Rana Mese menyajikan pesona alam yang sangat tenang, damai, dan sunyi. Atmosfernya yang jauh dari kebisingan kota membuatnya menjadi tempat yang sempurna untuk menyegarkan pikiran (healing). Di tempat ini, banyak juga wisatawan yang memilih untuk menghabiskan waktu dengan memancing di tepian danau yang teduh.

Rekreasi Menikmati Alam Sekitar

Berjalan santai atau trekking ringan mengelilingi danau menjadi aktivitas favorit yang paling diminati oleh para pelancong. Sembari berjalan kaki, pengunjung dapat menghirup udara pegunungan yang bersih dan sejuk serta menikmati pemandangan hijau di sekelilingnya. Pengalaman rekreasi ini semakin sempurna dengan suara riuh rendah burung-burung yang masih bebas beterbangan di atas kanopi hutan.

Kunjungan Wisatawan dan Manajemen Karcis

Kombinasi keindahan alam dan kesejukan ini sukses menarik minat banyak wisatawan, baik lokal dari daratan Flores maupun wisatawan nusantara dari berbagai urusan daerah. Untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keteraturan di dalam kawasan Taman Wisata Alam ini, setiap pengunjung yang datang akan dikenakan tarif tiket masuk resmi yang dibayarkan di pos penjagaan sebelum memasuki area danau.

 

Di balik popularitas Labuan Bajo dengan komodo purbanya, Pulau Flores ternyata menyimpan banyak rahasia yang belum sepenuhnya terungkap.

Salah satunya berada di Kabupaten Manggarai Timur sebuah wilayah di ujung barat Flores yang berbatasan langsung dengan Manggarai dan gerbang wisata dunia, Labuan Bajo.

Namun siapa sangka, di balik ketenangan daerah ini, tersimpan destinasi unik yang nyaris luput dari sorotan, fenomena air mendidih di Sungai Wae Mokel.

Terletak di Desa Golo Meni, Kecamatan Kota Komba Utara, tepatnya di Kampung Lebo, tempat ini menghadirkan pengalaman wisata yang tak biasa.

Tidak seperti destinasi mainstream yang ramai dan penuh fasilitas modern, Wae Mokel justru menawarkan keaslian alam yang masih perawan tenang, sunyi, dan memikat sejak langkah pertama.

 

Pesona Alam yang Menenangkan Jiwa

 Perjalanan menuju lokasi memang membutuhkan usaha. Dari Kota Borong, ibu kota Manggarai Timur, jaraknya sekitar 39,2 kilometer. Sementara dari Ruteng, pusat ibu kota Manggarai, sekitar 49 kilometer. Namun setiap kilometer perjalanan terasa sepadan saat tiba di lokasi.

Hamparan sawah terasering yang hijau membentang, berpadu dengan suara gemuruh Sungai Wae Mokel yang jernih dan udara sejuk khas pegunungan. Lanskap ini seolah menjadi lukisan hidup alami, liar, dan belum tersentuh tangan modernisasi.

 

Fenomena Unik: Air Mendidih di Tengah Sungai

 Keunikan utama tempat ini terletak pada fenomena alam yang jarang ditemukan air yang tampak mendidih di tengah aliran sungai.

Pada Minggu, 26 April, saat penulis mengunjungi lokasi ini, terlihat gelembung-gelembung kecil muncul dari celah batu di dasar sungai, menyerupai air yang sedang direbus. Fenomena ini bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga memunculkan rasa penasaran. Air tersebut bahkan memiliki rasa asin—sesuatu yang tidak biasa untuk aliran sungai pegunungan.

Masyarakat setempat percaya bahwa air ini memiliki khasiat, terutama untuk menyembuhkan penyakit kulit seperti gatal atau kudis.

Cerita ini diperkuat oleh penuturan warga setempat, Donsi, yang ditemui di kediamannya pada Senin sore, 27 April 2026. Ia menyebutkan bahwa sejak dulu, warga memanfaatkan air tersebut sebagai obat alami.

 

Waktu Terbaik untuk Berkunjung

Meski memikat, wisatawan perlu memperhatikan waktu kunjungan. Saat musim hujan, debit air Sungai Wae Mokel meningkat drastis dan dapat menutupi sumber air mendidih tersebut.

Bahkan, warna air berubah menjadi lebih gelap, sehingga keindahan dan fenomenanya tidak terlihat.

Sebaliknya, musim kemarau adalah waktu terbaik untuk datang. Air sungai lebih jernih, aliran lebih tenang, dan fenomena gelembung “air mendidih” dapat disaksikan dengan jelas.

 

Potensi Wisata yang Menanti Sentuhan

 Wae Mokel di Kampung Lebo adalah contoh nyata bahwa Flores tidak hanya tentang komodo atau pantai eksotis. Ada kekayaan lain yang lebih sunyi, lebih alami, dan justru menawarkan pengalaman yang lebih intim dengan alam.

Walaupun destinasi ini masih minim promosi dan fasilitas. Namun justru di situlah daya tariknya: sebuah tempat yang belum ramai, belum tercemar, dan masih murni seperti pertama kali diciptakan.

Jika kedepannya akan dikelola dengan bijak, tanpa merusak keasliannya, bukan tidak mungkin Wae Mokel akan menjadi destinasi unggulan baru di Manggarai Timur—sebuah permata tersembunyi yang siap bersinar di peta pariwisata Indonesia.

 

Ditulis oleh: Mulia Donan | 28 April 2026

Minggu pagi, 26 April 2026, pukul 09.30 WITA, langkah kami—saya dan rekan perjalanan, Gusti—mengarah ke sebuah destinasi yang belum banyak tersentuh sorotan. Kolam ajaib di Kampung Lebo, Desa Golo Meni, Kecamatan Kota Komba Utara, Kabupaten Manggarai Timur.
Udara pagi itu terasa sejuk, diselimuti gerimis tipis yang justru menambah romantika perjalanan. Lanskap khas ujung utara menyambut hangat.
Hamparan sawah terasering, aliran sungai yang bergemuruh, dan hijaunya kebun warga yang membentang sejauh mata memandang. 
Perjalanan menuju lokasi terasa seperti terapi alami—menenangkan sekaligus membangkitkan rasa ingin tahu.


Menyusuri Jalan Sunyi Menuju Keajaiban Alam

Sekitar pukul 10.15 WITA, kami tiba dan langsung melanjutkan perjalanan menyusuri jalur kecil—“jalan tikus” yang biasa digunakan petani menuju ladang. 
Trek ini bukan tanpa tantangan. Semak belukar yang rapat, jalur tanah yang licin, hingga medan yang naik turun justru menjadi bagian dari petualangan yang tak terlupakan.
Namun, setiap langkah seakan terbayar lunas saat suara gemericik air mulai terdengar—pertanda bahwa kami semakin dekat dengan tujuan utama: kolam ajaib yang dikenal warga sebagai “Loka”.


Loka Lebo: Air Mendidih yang Tak Pernah Padam

Di balik kesunyian Kampung Lebo, tersembunyi fenomena alam yang langka. Kolam ini berisi air yang tampak terus mendidih tanpa henti. Uniknya, air tersebut terasa hangat dan sedikit asin saat disentuh.
Bagi masyarakat setempat, “Loka” bukan sekadar keajaiban alam, tetapi juga memiliki nilai sakral.
Donsi (43), salah satu warga, mengungkapkan bahwa kolam ini telah lama dipercaya memiliki kekuatan penyembuhan.
Donsi menambahkan kisah yang beredar di kampung tersebut. Konon, seseorang yang pernah menderita penyakit kulit seperti kudis, sembuh setelah mandi di kolam ini. 
Cerita-cerita semacam ini semakin memperkuat aura mistis sekaligus daya tarik wisata Loka Lebo.
Donsi menceritakan bahwa Loka Lebo memiliki beragam bentuk dan ukuran—ada yang bulat, ada pula yang menyerupai sabit, tersebar di lokasi yang terpisah. 
Tempat ini dipercaya dihuni makhluk gaib, mulai dari arwah leluhur hingga bidadari. Kolam ini sangat sakral, sehingga tidak boleh disentuh sembarangan, baik oleh masyarakat setempat maupun pengunjung yang datang untuk menikmatinya.


Lebih dari Sekadar Wisata Alam

Selama ini, Nusa Tenggara Timur dikenal luas lewat pantai eksotis, panorama matahari terbit dan terbenam, serta kekayaan baharinya. 
Namun, Loka Lebo menjadi bukti bahwa wilayah ini juga menyimpan pesona wisata darat yang tak kalah memikat.
Sayangnya, keindahan ini masih tersembunyi. Minimnya promosi membuat destinasi ini jarang dikunjungi wisatawan. Padahal, dari sisi keunikan, nilai budaya, hingga pengalaman yang ditawarkan, Loka Lebo memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi destinasi unggulan.


Wisata Rohani di Gua Bunda Maria Loka Lebo

Tak jauh dari kolam air mendidih, terdapat tempat ziarah yang menambah dimensi spiritual perjalanan: Gua Bunda Maria Loka Lebo.
Gua ini menjadi ruang refleksi dan doa bagi para pengunjung. Lingkungannya yang tenang dan tertata rapi membuat siapa pun betah berlama-lama. Fasilitas seperti penginapan sederhana dan bangku-bangku santai juga tersedia, menjadikannya lokasi yang ramah bagi wisatawan.


Akses dan Rute Perjalanan

Perjalanan menuju Kampung Lebo memang cukup panjang, sekitar 100 kilometer dari Borong. Namun akses jalan yang relatif baik membuat perjalanan tetap nyaman.
Dari Borong, wisatawan akan melewati jalan provinsi menuju Kampung Pedak di Desa Mokel. Sebelum tiba di Kampung Deru, terdapat simpang empat—ambil arah kanan menuju Kampung Lebo. 
Sepanjang perjalanan, mata akan dimanjakan oleh kebun kakao dan bentangan sawah yang luas.


Permata Tersembunyi yang Menanti Ditemukan

Loka Lebo adalah gambaran sempurna tentang bagaimana alam, budaya, dan kepercayaan lokal berpadu dalam harmoni. Ia bukan hanya destinasi, tetapi pengalaman—tentang perjalanan, ketenangan, dan kekaguman pada ciptaan alam.
Bagi pencinta petualangan dan pencari ketenangan, tempat ini adalah jawaban yang selama ini mungkin belum Anda ketahui.
Kini, tinggal satu pertanyaan: Kapan Anda menjelajahi Loka Lebo?*

 
Ditulis oleh: Mulia Donan | 27 April 2026

Binatang Rughu di Pota Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur

“Rughu” adalah nama lokal untuk binatang komodo yang hidup di pesisir utara pulau Flores, khususnya di Pota Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur. Berdasarkan Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora (CITES) komodo termasuk dalam daftar binatang langkah dan berada pada status rentan punah (vulnerable) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) (IUCN, 2016). Hal ini dikarenakan populasi komodo yang cenderung menurun dan sebaran yang terbatas (Jessop dkk, 2007). Demikian pula populasi rughu di wilayah Pota cenderung mengalami penurunan populasi.

Komodo paling banyak tersabar di beberapa pulau kecil di barat pulau Flores seperti pulau Komodo, pulau Rinca, pulau Gilimotang dan pulau Padar. Namun di beberapa tempat di pulau Flores bagian barat juga ditemukan penyebaran dan habitat komodo. Penyebaran di pulau Flores bagian barat mulai dari Labuan Bajo sampai Nangalili dan di bagian Pantai Utara mulai dari Dampek sampai sebelah barat Riung (Aufenberg, 1981). Selain daerah tersebut penyebaran komodo sampai ke timur menyusuri pantai utara pulau Flores dan ke arah timur menyusuri pantai utara pulau Flores sampai ke sekitar Tanjung Watumanuk (Sutedja, 1983).

 

Mengenal Rughu, Komodo Asli Pota

Masyarakat Pota Kecamatan Sambi Rampas Kabupaten Manggarai Timur menyebut Komodo dengan nama lokal “rughu”. Belum diketahui sejak kapan penyebaran binatang komodo sampai ke wilyah Pota, namun  keberadaan komodo di Pota sudah diceritakan dari generasi ke generasi. Demikian pula pemberian nama “rughu” oleh masyarakat local menunjukan adanya hubungan atau pengakuan atas keberadaan komodo di tengah penduduk asli Pota sejak zaman dulu.

Binatang rughu di Pota Kecamatan Sambi Rampas

Berbeda dengan komodo yang hidup di pulau-pulau kecil di sebelah barat Flores yang merupakan tempat ideal bagi komodo, rughu di Pota sudah sejak awal hidup berdampingan dengan manusia. Tidak jarang keberadaan manusia bisa mengancam keberlangsungan populasi rughu, demikian juga rughu bisa menjadi ancaman bagi ternak masyarakat.

Komodo yang hidup di luar habitat idealnya memiliki ciri fisik yang sedikit berbeda dengan komodo yang hidup di pulau-pulau kecil di sebelah barat Flores. Komodo memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan biawak lainnya. Menurut Verhallen (2006), panjang tubuh komodo dapat mencapai 3 meter dengan bobot badan lebih dari 100 kg. Kulit komodo dewasa umumnya berwarna hitam keabu-abuan. Namun, rughu memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dan ramping dengan warna lebih terang atau kekuningan. Perbedaan tersebut diduga sebagai hasil adaptasi dengan alam dan habitatnya.

Penyebaran rughu di wilayah Pota Kecamatan Sambi Rampas mencakup wilayah yang cukup luas yakni wilayah hutan konservasi dan lahan milik masyarakat. Data dari Pusat Informasi Komodo di Pota menerangkan wilayah penyebaran rughu di wilayah Kabupaten Manggarai Timur mencakup wilayah beberapa desa/kelurahan di Kecamatan Sambi Rampas dan Elar. “Penyebaran habitat rughu mulai dari Kelurahan Baras, Kelurahan Pota, Desa Nanga Mbaur, Desa Nanga Mbaling, Desa Nampar Sepang sampai Desa Golo Lijun di Kecamatan Elar” jelas Arsyad, staf Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Manggarai Timur yang mengelolah Pusat Informasi Komodo di Pota.

Tidak seperti Komodo di pulau Komodo dan Rinca, rughu merupakan binatang yang jarang dijumpai dan selalu menghindar jika berjumpa dengan manusia. Populasi manusia dan perluasan lahan masyarakat membuat habitat rughu semakin terdesak. Sering terjadi rughu masuk ke wilayah perkampungan dan memangsa hewan ternak milik warga. “Saya sering mendapat laporan dari masyarakat, ada rughu yang memangsa ternak mereka. Saya langsung ke lokasi untuk mengevakuasinya sambil memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak membunuh rughu karena merupakan binatang yang dilindungi” ujar Arsyad, yang juga merupakan pawang Komodo.

 

Bapak Arsyad sedang mengevakuasi rughu yang masuk ke perkampungan dan memangsa ternak milik warga

 

Ancaman dan Upaya Konservasi Rughu

Peningkatan populasi manusia dan perluasan lahan masyarakat berdampak besar pada habitat dan populasi rughu. Ancaman kepunahan bisa disebabkan oleh beberapa factor seperti habitat rughu yang semakin terdesak, ketersediaan sumber makanan yang semakin menipis dan ancaman langsung keberadaan rughu bagi ternak warga. Ancaman tersebut mendorong Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) wilayah II Ruteng untuk melakukan upaya konservasi dan riset dengan melibatkan beberapa stakeholders.

Upaya konservasi rughu menjadi salah satu prioritas BKSDA Wilayah II Ruteng untuk menyelamatkan habitat dan populasi binatang yang terancam punah tersebut dengan bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan dan LSM yang bergerak di bidang konservasi binatang yang terancam punah. Data dari Pusat Informasi Komodo di Pota mengatakan bahwa upaya konservasi rughu sudah dilakukan oleh BKSDA Wilayah II Ruteng bekerjasama dengan LSM Komodo Survival Program (KSP) sejak tahun 2013 dan sejak tahun 2023 bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan dalam Proyek InFlores.

Bersama LSM Komodo Survival Program (KSP) BKSDA Wilayah II Ruteng telah melaksanakan beberapa kegiatan peningkatan SDM, Konservasi dan Riset. KSP focus pada sosialisasi tentang Komodo kepada Masyarakat di wilayah sambi Rampas dan Elar dengan mendirikan Pusat Informasi Komodo di Pota pada tahun 2016. Pada tahun 2015 beberapa aparat desa di kecamatan Sambi Rampas dan Elar diutus mengikuti studi banding tentang Komodo di Taman Nasional Komodo. Pada tahun 2017 KSP melakukan pelatihan kerajinan pembuatan patung Komodo kepada para pengrajin patung. Selain itu, untuk memantau pergerakan dan populasi rughu, BKSDA Wilayah II Ruteng Bersama KSP juga memasang camera trap di beberapa Lokasi di wilayah Sambi Rampas dan Elar.

Tim BKSDA bersama KSP memasang camera trap untuk memantau rughu

Sejak tahun 2024 BKSDA Wilayah II Ruteng juga bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan dan LSM KSP melaksanakan proyek InFlores dengan fokus pada kegiatan sosialisasi tentang komodo kepada masyarakat dan konservasi. Fokus utama proyek ini antara lain pemberdayaan masyarakat dengan membentuk kader-kader pelestari lokal untuk menjaga kelestarian Komodo dan hewan serta tumbuhan langkah dan terancam punah, termasuk melaporkan dan menyelamatkan komodo yang tak sengaja tertabrak kendaraan. Sosialisasi masih dipandang penting di tengah ancaman berkurangnya populasi rughu dan hewan endemik lainnya di wilayah Flores. Semetara itu, dari pantauan camera trap yang dipasang oleh KSP, pada tahun 2024 populasi rughu sekitar 19 ekor.

Para kader-kader pelestari lokal saat mengikuti pelatihan.

“Rughu” bukan sekedar binatang purba yang terancam punah tapi merupakan pengakuan yang telah memberi pengertian tentang keberadaan bersama antara komodo dan masyarakat Pota dari generasi ke generasi. Namun, perkembangan zaman mendesak keberadaan rughu ke jurang kepunahan. Manusia sebagai yang “berkuasa” atas alam dan isinya berperan sangat besar dalam menentukan keberlangsungan hidup rughu. Mari kita bersama-sama menjaga habitat dan ekosistem tempat tinggal rughu, agar keberadaan rughu terus berlanjut sampai ke  generasi yang akan datang.

NEWSLETTER

Please enable the javascript to submit this form

sidebar